Projection

Standar

1. Projection (Proyeksi)

Proyeksi merupakan apperceptive distortion yang bertaraf paling tinggi, dan secara hipotesis, mempunyai arti yang bertolak-belakang (berlawanan) dengan persepsi yang benar-benar objektif (a completely objective perception).

Berdasarkan tingkatan, proyeksi dapat mewujudkan pada :

a. Gangguan-gangguan psikosis pada umumnya

b. Defens-defens neurotik pada umumnya

c. Beberapa proses maturational atau kemasakan yang masih di dalam taraf normal.

Proyeksi (true projection) tidak hanya merupakan pelampiasan keluar perasaan-perasaan dan sentimen-sentimen yang berasal dari ketidaksadaran, dalam bentuk sebagai defense, tetapi pelampiasan keluar perasaan-perasaan dan sentimen-sentimen tersebut ke dunia luar itu juga disebabkan karena ego tidak dapat menerima perasaan-perasaan dansentimen-sentimen tersebut. Dan dapat pula ditambahkan bahwa proyeksi semacam itu tidaklah dapat ditempatkan di dalam kehidupan kesadaran, tanpa melalui psikoterapi khusus dalam jangka panjang.

Konsep ini nampak muncul sebagai suatu fenomena yang terdapat pada penderita paranoid (yang telah disinggung sebelumnya), dimana proyeksi muncul sebagai suatu perubahan dari I love him di dalam ketidaksadaran, menjadi He hates me di alam kesadaran.

True projection pada kasus ini merupakan proses yang meliputi 4 tahap, yaitu:

  1. I love him (terhadap objek homoseksual), yang merupakan suatu dorongan id yang unacceptable (tidak dibenarkan)
  2. Kemudian muncul suatu reaksi formasi, yaitu : I hate him;
  3. Agresi (hate = benci) juga merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dan ini kemudian di repres
  4. Akhirnya, dalam kesadaran, persepsi diubah menjadi He hates me.

Tahap terakhir ini sajalah yang biasanya nampak di alam kesadaran.

Bellak menyebut proses ini sebagai proses inverted projection, yang merupakan lawan dari simple projection.

Tahap pertama proses ini adalah munculnya suatu bentuk defense mechanism yang lain, yaitu reaksi formasi. Secara berurutan dikatakan sebagai berikut :

1. I love him adalah merupakan dorongan yang tidak diperkenankan muncul di dalam kehidupan sosial (karena merupakan objek cinta homoseksual), dan juga berdasarkan apa yang telah dipelajari di dalam hubungannya dengan ayah, dorongan ini dirasakan sebagai impuls yang membahayakan.

2. Kemudian dorongan tersebut berubah menjadi I hate him (reaksi formasi) yang bertindak sebagai ganti perasaanlove.

Terlihat di sini bahwa pada inverted projection, yang pertama-tama muncul adalah reaksi formasi, yang kemudian disusul oleh simple projection dalam bentuk apperceptive distortion yang merupakan pemetaan (proyeksi) sentimen-sentimen subjektif kepada dunia luar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s