Purely Cognitive Perception

Standar

5. Purely Cognitive Perception and Other Aspects of Stimulus-Response Relationship (Persepsi kognitif murni dan aspek-aspek lain di dalam hubungan stimulus-respon)

Pure perception (persepsi murni) adalah merupakan suatu proses hipotesis yang merupakan lawan dari prosesapperceptive distortion, dan secara operasional subjektif dapat kita definisikan sebagai kesepakatan di dalam memberikan arti terhadap suatu stimulus apabila diadakan komparasi dengan interpretasi-interpretasi lain terhadap stimulus tersebut, (singkatnya) adalah kesepakatan di dalam menginterpretasikan stimulus yang sama.

Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa tingkah laku yang umumnya rasional dan sesuai dengan stimulus-stimulus yang ada, merupakan tingkah laku yang adaptif (adaptive behavior).

Di dalam eksperimen-eksperimen Bellak, dikemukakan bahwa subjek lebih sering memproyeksikan agresinya terhadap cerita-cerita yang mengandung unsur agresi, walaupun di dalam keadaan biasa, misalnya :

Gambar-gambar yang menunjukkan suatu keadaan yang kacau (huddle) dan sebuah pistol, akan lebih mudah mengarahkan munculnya cerita-cerita agresi, daripada bila gambar itu menunjukkan suatu pemandangan alam yang permai.

Di dalam ulasan psikologis, dikatakan bahwa respon tersebut merupakan sebagian dari fungsi stimulusnya (the response in part a function of the stimulus).

Di dalam ulasan apperceptive psychology dikatakan bahwa kebanyakan subjek akan sepakat (agreement) di dalam mengemukakan dasar-dasar persepsinya terhadap suatu stimulus, dan kesepakatan itu berdasarkan keadaan subjektif stimulus tersebut.

Oleh Gordon W. Allport tindakan-tindakan yang konsisten dengan aspek-aspek objektif dari stimulusnya seperti yang dikemukakan di atas tadi, disebut adaptive behavior. Sebagai contoh, misalnya :

 Pada kartu nomor 1 TAT subjek mengadaptasikan dirinya terhadap fakta gambar yang menunjukkan sebuah biola.

Ada beberapa prinsip dari adaptive behavior, yaitu :

1. Taraf variasi adaptive behavior berbanding terbalik dengan taraf kejelasan stimulusnya. Atau dapat dikatakan, semakin jelas stimulusnya semakin kecil variasi adaptive behaviornya, ataupun, semakin kabur stimulusnya, semakin besar variasi adaptive behavioraya. Misalnya :

J  Gambar-gambar pada TAT dan bercak-bercak tinta pada Tes Rorshach, merupakan stimulus yang relatif kabur (tidak berstruktur), akan merangsang timbulnya sedemikian banyak respon-respon apperceptive distortion(variasi adaptive behaviornya sedemikian besar).

J  Sebaliknya, salah satu gambar pada Tes Staford Binet, yaitu gambar suatu perkelahian antara seorang kulit putih dan orang-orang Indian, akan merangsang timbulnya respon yang sama pada kebanyakan subjek anak-anak umur 10-12 tahun (variasi adaptive behaviornya sangat kecil).

2. Taraf kejelasan adaptasi (adaptive behaviornya) juga ditentukan oleh aufgäbe atau set (tugas yang diberikan atau respon yang harus dilakukan).

J  Akan lebih mudah bagi subjek bila diminta untuk menyebutkan gambar apa, ketimbang bila subjek diminta untuk menceritakan isi gambar tersebut, karena bila subjek mengemukakan cerita tentang gambar tersebut, subjek cenderung kurang memperhatikan aspek-aspek objektif dari stimulusnya.

3. Kondisi organisme sewaktu menerima stimulus, juga memperhatikan rasio adaptive behavior-nya, misalnya :

J  Di dalam eksperimen Lavine, Chain dan Murphy mengenai sensitization dapat kita lihat bahwa subjek-subjek menunjukkan apperceptive distortion yang berbeda- beda tarafnya. Bahkan seorang subjek yang sama, akan memberikan reaksi yang berbeda-beda pada waktu baru bangun dari tidurnya dan pada waktu sudah lama terjaga.

 

 

 

 

 

Selanjutnya Allport juga mengemukakan istilah expressive behavior. Expressive behavior ini dapat dilihat dari contoh di bawah ini :

J  Jika beberapa seniman (artis diminta untuk tampil di dalam kondisi yang sama, tidaklah dapat diharapkan bahwa mereka akan menunjukkan penampilan kreatif yang sama. Ketidaksamaan penampilan tersebut disebabkan adanya individual differences di dalam mengekspresikan penampilan masing-masing. Dalam hal ini karakter pribadi (personal characteristics) setiap individu akan lebih menentukan expressive behaviornya (dibandingdengan kondisi stimulusnya).

Jadi dapat disimpulkan, bahwa adaptasi (adaptive behavior) dan apperceptive distortion terlihat dari apa yang dilakukan seseorang, sedangkan expressive behavior terlihat dari bagaimana seseorang melakukan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s