Simple Projection

Standar

2. Simple Projection (Simple Distortion)

Simple projection merupakan proses yang tidak mempunyai indikasi klinis, dan merupakan kejadian yang umum di dalam kehidupan sehari-hari. Suatu contoh lucu dikemukakan di bawah ini :

J  Harun berhasrat ingin meminjam printer untuk mencetak beberapa lembar tugas psikologi dari Rudy. Ketika dalam perjalanan ke rumah Rudy, Harun berpikir bagaimana caranya nanti yang harus dikatakan pada Rudy untuk meminjam printer tersebut. Kemudian ia berpikir pula; “Jangan-jangan Rudy nanti mengatakan bahwa saya dulu pernah meminjam sesuatu dan mengembalikannya dalam keadaan rusak.” Kemudian Harun melanjutkan lagi fantasinya dengan menjawab bahwa, “memang dulu ia meminjam kallulator itu dalam keadaan rusak.”

J  Kemudian Harun melanjutkan hayalannya lagi dengan mengatakan, “Rudy mungkin akan mengatakan bahwa saya akan menghabiskan tinta printer ketika meminjam printer.” Dan kemudian Harun menjawab pula dan seterusnya, dan seterusnya. Akhirnya, sewaktu Harun sampai ke rumah Rudy, ia melihat Rudy sedang duduk di depan. Dan Rudy kemudian menyapa Harun: “Tumben, malam-malam datang kemari, apa ada yang bisa bantu?” Kontan Harun menjawab dengan, “bilang saja kalau nggak mau pinjamkan printermu!

Cerita di atas dapat interpretasi sebagai berikut :

J  Sewaktu Harun ingin meminjam sesuatu, ia teringat suatu pengalaman yang cukup mengecewakan, karena ditolak waktu meminjam, hal itu juga diingat (berdasarkan apa yang dipelajari dari orang tuanya dan saudara-saudaranya) bahwa meminjam itu kurang baik. Pengalaman ini selalu mengganjal dalam hati, dia merasa bahwa Rudy akan marah kepadanya, dan ia menunjukkan respon yang agresif di dalam imajinasinya.

J Jadi proses ini dapat dikatakan bahwa, image Harun terhadap Rudy mengalami apperceptive distortion karena adanya pengalaman dengan saudaranya itu.

Bilamana kita memfokuskan masalah, maka fokusnya pada, mengapa Harun tidak dapat menyadari, bahwa sebenarnya realita telah membuktikan ketidakbenaran konsep pikirannya yang semacam itu. Tetapi senyatanyalah bahwa berdasarkan fakta-fakta empiris, tingkah laku neurotik tidak dapat secara mudah berubah tanpa melalui suatu psikoterapi.

Kasus Harun berbeda dengan kasus paranoid (homoseksual) dalam masalah taraf kesubjektifan dan keabsurdan distorsi yang terjadi (apperceptive distortion).

Perbedaan itu nampak di dalam taraf-taraf sebagai berikut :

J  Kekakuan di dalam mengalamatkan proyeksi

J  Sering tanpa disadari, terjadinya proyeksi semacam itu (kasus paranoid lebih jarang ketimbang kasus Harun yang merupakan kejadian sehari-hari)

J  Keeksklusifan proyeksi tersebut

J  Peran kesadaran di dalam proses proyeksi tersebut.

Pada kasus lain, misalnya :

J  Ada seorang mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas, karena kesibukannya yang relatif banyak dan membutuhkan perhatian ektra. Ketika tenggat waktu yang diberikan telah berkahir, ia merasa (perasaan yang tidak benar) bahwa dosennnya seolah-olah kelihatan marah kepadanya ketika belum mengumpulkan tugas. Perasaan yang muncul dari diri mahasiswa itu, dinamakan a guilty conscience (rasa bersalah di dalam konsiensia).

J  Perasaan itu akan selalu timbul bila, ia tidak menyelesaikan tugas secepatnya kemudian bertemu dengan dosennya dan menjelaskan mengapa kejadian—terlambat mengumpulkan tugas terjadi. Perasaan itu dapat muncul lagi, bilamana dia melakukan hal yang sama. Meskipun dosennya sebenarnya tidak seperti yang dia rasakan.

Rasa bersalah yang dirasakan oleh mahasiswa sebenarnya refleksi dari perilaku dosen yang seolah-olah memarahinya ketika belum mengumpulkan tugas sesuai dengan batas waktu. Namun sebenarnya perilaku yang ditunjukan mungkin akibat kekesalan pada sesuatu kemudian diekspresikan saat itu.

Perilaku mahasiswa tersebut dapat kita katakan sebagai suatu simple distortion, yang diakibatkan adanya transfer of learning, atau image masa lalu mempengaruhi tingkah laku yang sekarang.

 

Contoh Simple Projection:

Joe Smith berhasrat ingin meminjamkan mesin pemotong rumput dari Jim Jones , sewaktu didalam perjalanan ke rumah Jim, ia berfikir bagaimana caranya nanti yang harus dikatakan pada Jim untuk meminjamkan mesin tersebut. Kemudian ia  berfikir pula : Jangan-jangan Jones nanti mengatakan bahwa saya dulu pernah meminjam sesuatu dan mengembalikannya dalam keadaan kotor. Kemudian Joe melanjutkan lagi fantasinya lagi dengan mengatakan, jones memungkinkan mengatakan bahwa joe akan merusak pagarnya waktu membawa mesin tersebut dan kemudian Joe menjawab pula dan seterusnya. Akhirnya, sewaktu Joesampai ke rumah Jones, ia melihat Jones berada di depan dan Jones menyapa Jim: Halo Joe, apa yang dapat saya berbuat  untuk anda? Kontan Joe menjawab dengan: …..simpan saja mesih pemotong rumput itu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s