altruisme

Standar
  1. 1.    Pengertian Altruisme

Altruisme berasal dari kata “alter” yang artinya “orang lain”. Secara bahasa altruisme adalah perbuatan yang berorientasi pada kebaikan orang lain. Altruisme telah menjadi percakapan serius dikalangan ahli antropologi, psikologi sosial dan sosiologi sejak ratusan tahun lalu. Term ini pertama kali digunakan oleh sosiolog ternama Auguste Comte (dalam Taufik, 2012). Sebelum Comte, term ini didiskusikan oleh para ahli dengan berbagai nama, seperti benevolence, charity, compassion, dan friendship (Batson & Shaw, dalam Taufik, 2012). Semua term tersebut dimaksudkan untuk satu tujuan yaitu menjelaskan tentang hal-hal yang berdekatan dengan perilaku menolong, hanya saja istilah-istilah yang digunakan belum secara tegas menjelaskan karena dipengaruhi oleh masing-masing orang yang mencetuskannya.

Mendefinisikan perilaku menolong barangkali lebih mudah dibandingkan dengan mendefinisikan altruisme. Altruisme merupakan salah satu fenomena sosial yang cukup pelik untuk dijelaskan, lebih-lebih didefinisikan (Madsen, dalam Taufik, 2012).

Comte (dalam Taufik, 2012) membedakan anatara perilaku menolong dengan perilaku menolong yang egois. Menurutnya dalam memberikan pertolongan, manusia memiliki dua motif (dorongan), yaitu altruis dan egois. Kedua dorongan tersebut sama-sama ditujukan untuk memberikan pertolongan. Perilaku menolong yang egois tujuannya justru mencari manfaat untuk diri si penolong atau dia mengambil manfaat dari orang yang ditolong. Sedangkan perilaku menolong altruis yaitu perilaku menolong yang ditujukan semata-mata untuk kebaikan orang yang ditolong, selanjutnya Comte menyebut perilaku menolong ini dengan altruisme.

Sementara Batson (1998) mengartikan altruisme dengan menyandingkannya dengan egoisme. Menurutnya altruisme adalah suatu keadaan motivasi dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan orang lain. Egoisme adalah suatu keadaan motivasi dengan tujuan akhir meningkatkan kemakmuran diri sendiri.

Definisi altruisme diatas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan definisi yang  dikembangkan oleh Comte, yaitu dorongan menolong dengan tujuan utama semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain (yang ditolong), sedangkan egoism yaitu dorongan menolong dengan tujuan utama semata-mata untuk kepentingan dirinya. Jika seseorang menolong orang lain agar ia terkurangi atau terhindar dari penderitaan, maka itu disebut altruisme. Jika seseorang menolong orang lain agar perasaannya lebih nyaman atau agar terlihat bagus dimata orang lain, maka itu dinamakan egoisme.

Menurut Santrock (2003), altruisme dalam adalah minat yang tidak mementingkan diri sendiri untuk menolong orang lain. Menurut Dividio (dalam Taufik, 2012) konsep altruisme berkaitan erat atau bahkan sering disamakan maknanya dengan perilaku menolong. Namun, bila kita melihat kembali pengertian menolong kita menemukan perbedaan keduanya. Yaitu terletak pada tujuan si penolong dan manfaat dari upaya memberi pertolongan (Dovidio dkk., dalam Taufik, 2012). Altruisme diartikan oleh Aronson, Wilson, & Akert (dalam Taufik, 2012) sebagai pertolongan yang  diberikan secara murni, tulus, tanpa mengharap balasan (manfaat) apa pun dari orang lain dan tidak memberikan manfaat apa pun untuk dirinya.

Dengan demikian altruisme merupakan perilaku menolong yang murni, tulus, tanpa mengharapkan balasan dari orang yang ditolong serta lebih berorientasi pada kebaikan orang lain dan bertujuan meningkatkankesejahteraan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s