Faktor-faktor penyebab munculnya juvenile Deliquency

Standar
Menurut Taft (Simanjuntak, 1975) faktor –faktor yang menyebabkan juvenile delinquency itu adalah subjective approach dan objective approach.

Penyimpangan perilaku remaja ini contohnya,seperti : mencuri,bolos dari sekolah,free sex, vandalisme/perusakan, serangan yang agresif yang mengarah pada kematian, mengkonsumsi minuman keras atau obat-obat terlarang,berpakaian tidak sesnonoh,dan tawuran (kekerasan berkelompok atau genk).

Stephens (1973) melaporkan remaja yang berperilaku menyimpang sekitar 3 % dari seluruh remaja  di Amerika yang berusia antara 10-17 tahun. Pada awalnya Juvenile delinquency ini didominasi oleh remaja pria,tetapi mulai tahun 1971,kasus remaja perempuan pun meningkat 11 %, sementara kasus remaja pria meningkat 6%.

Faktor yang mempengaruhi Juvenile Deliqency menuntut sebagian ahli (para biologis) adalah hereditas atau faktor keturunan,namun pendapat inidibantah oleh ahli lain,seperti Ashley Montague (Simanjutak,1975) yang berpendapat bahwa “tak ada bukti bahwa seseorang diwarisi tingkah laku jahat.Kejahatan adalah kondisi sosial,bukan kondisi biologis”.

 

  1. 2.       Pencegahan dan penanganan

Banyak upaya yang dapat di lakukan dalam mengatasi masalah kenakalan remaja. Dibawah ini akan di paparkan beberapa cara untuk mengatasi kenakalan remaja, yaitu :

  1. Program harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedar berfokus pada kenakalan. Misalnya, pada dasarnya mustahil meningkatkan pencegahan kenakalan tanpa mempertimbangkan kualitas pendidikan yang ada bagi anak-anak muda yang berisiko tinggi. Satu program yang berhasil, yang dirancang untuk menekan kenakalan remaja terdapat dalam dunia sosiokultural.
  2. Program harus meiliki komponen-komponen ganda, karena tidak ada satu pun komponen yang berdiri sendiri sebagai “peluru ajaib” yang dapat memerangi kenakalan.
  3. Program-program harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah belajar dan masalah perilaku.
  4. Sekolah memainkan peran penting. Sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat, kebijakan disiplin yang adil, partisipasi murid dalam pengambilan keputusan, dan investasi besar terhadap hasil-hasil sekolah oleh murid-murid dan staf memiliki peluang yang lebih baik dalm menekan kenakalan.
  5. Upaya-upaya harus diarahkan pada perubahan institusional daripada perubahan individual. Yang menjadi titik berat ialah meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung.
  6. Walaupun  butir e benar adanya, namun para peneliti menemukan bahwa memberi perhatian kepada masing-masing individu secara intensif dan merancang program secara unik bagi tiap anak merupakan faktor yang penting dalam menangani anak-anak yang berisiko tinggi untuk menjadi nakal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s